“Kopi Bajawa itu berbeda dengan kopinya orang Manggarai. Kopi Bajawa itu ber-aroma lain. Kamu adalah penikmat kopi pasti mengenal baik. Ada rasa sepat ditegukkan terakhirnya. Berdiamlah sejenak dan biarkan rasa itu datang. Hmmm… ekstasinya dapat. Satu dua hari ini saya coba jalan-jalan ke Ende. Siapa tahu, di sekitar bandara ada yang rela membawa kopi Bajawa itu ke Kupang. Ingat, itu kopi Bajawa, bukan kopinya orang Manggarai. Warnanya sama tapi nuansa rasa dan sensasinya beda”, katanya dalam tawa.
Di saat begini, kekasihku (istri) hanya bisa menguping dan tersenyum sendiri. Ia tahu hobiku itu. Bercerita, ngakak, berdiam diri bersama buku dan duduk manis menulis. Kami bercerita lagi. Di bulan Agustus nanti, pemerintah Nagekeo akan menggelar “festival literasi”. Kami terdiam sejenak seakan sedang mencari defenisi yang tepat tentang festival antik itu. Benar. Festival lazimnya selalu membawa nuasa gembira, semarak dan penuh makna. Kali ini temanya antik. Festival literasi. Kenapa antik? Jawab saja, karena festival ini baru pertama kali digelar di NTT.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












