Beranda Olahraga Ketika Bidu Berpadu Dalam Bola

Ketika Bidu Berpadu Dalam Bola

1142
0

BELU, Flobamora-news.com –       Di mana saja dan kapan saja, sepak bola selaku menarik dan memesona manusia. Bukan hanya karena sepak bola telah menjadi olahraga rakyat, tapi juga bola telah menjadi hiburan umat manusia, digemari pria dan wanita.

Dalam Bola, kita dapat melihat dan merasakan tragedi, komedi, ketabahan untuk menerima kekalahan, dan tepat serta keberanian untuk selalu bangkit meraih kemenangan.

Sepak Bola memang sangat kaya dengan berbagai aspek kehidupan. Tak heran jika sepak bola juga bisa menjadi sumber refleksi dan permenungan. Dikuras bagaimanapun sepak bola akan selalu meninggalkan wilayah yang tak akan habis ditimba. Sepak bola akhirnya menyisakan sebuah misteri yang tak mungkin dipahami. Mungkin itu sebabnya sepakbola mendekati sebentuk religiositas yang oleh sebagian orang dikritik sebagai menggantikan dan mengkhianati keagamaan.

Tak lepas dari hal tersebut, masyarakat Malaka sendiri memiliki sebuah tarian lokal masyarakat Suku Tetum, yang disebut dengan nama Tari Bidu. Tarian ini bersifat hiburan sebagai tarian pergaulan muda-mudi.

Alur tarian bidu diawali dengan penari wanita tampil ke tengah arena dengan membawa Koba (tempat sirih). Mereka menunggu-nunggu kunjungan pacarnya. Dan para penari pria menyusul dan memerankan peran mereka sebagai tokoh pencari jodoh. Mereka menari sambil mengamat-amati gadis mana yang akan dijadikan pasangannya.

Tari Bidu ini sangat melekat di hati masyarakat Malaka sama halnya dengan sepak bola. Sepak Bola hanya menjadi hiburan semata, tapi juga telah menjadi jiwa bagi Masyarakat Malaka. Jangankan bermain, saat menonton pertandingan sepak bola, kaki dan tangan para penonton tak bisa diam dengan tenang seakan merekalah pemain yang berada di tengah lapangan.

Tak dapat dipungkiri, Sepak Bola seakan sudah mendarah-daging dalam diri masyarakat Malaka. Terbukti, ketika masih menjadi bagian dari Kabupaten Belu, hampir sebagian besar pemain Persab Belu yang berasal dari Malaka.

Hal inilah yang menjadi salah satu faktor PS Malaka menjadi Tim Terbaik ETMC 2017 yang diselenggarakan di Ende dua tahun silam. Padahal itulah kali pertama Kabupaten Malaka mengikuti ajang pementasan Sepak Bola terbesar di Provinsi NTT tersebut.

Sepak Bola adalah separuh jiwa Masyarakat Malaka. Demikian halnya dengan Bidu. Saat pemain Malaka mulai menggocek lawannya dengan sedikit goyangan badan, maka sontak penonton akan berkata, “lihat, dia mulai Bidu di hadapan lawannya”.

Hal ini pun akan terjadi kembali di laga pembuka El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 di Lapangan Betun pada Jumat (5/7/2019) saat Tim PS Malaka akan berhadapan dengan PSK Kabupaten Kupang.

Tim Manu Aman Mutin Makala turun dengan kekuatan penuh dan dukungan dari para suporter yang memiliki eforia bola yang cukup tinggi. Namun, untuk meraih kemenangan bukan sebuah hal yang mudah. Setiap pemain yang diturunkan dalam ETMC adalah para pemain terbaik yang dimiliki kabupaten tersebut. Sekian itu, strategi, taktik, dan tangan dingin pelatih turut berperan dalam meraih kemenangan.

“Setiap pertandingan yang dihadapi adalah pertandingan final . Karena itu, semua pemain harus bisa laksanakan tugasnya di lapangan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab sesuai instruksi dan nasehat pelatih,” ujar Ketua Askab PSSI Kabupaten Malaka, Adrianus Bria Seran.

Bidu merupakan sebuah tarian tradisional masyarakat Malaka untuk mencari jodoh. Dalam Sepak Bola, Tari Bidu yang dipertontonkan para pemain adalah sebuah tarian Manu Aman Mutin Malaka untuk mencapai kemenangan. (Richi Anyan)

Komentar