Beranda Opini Surga Masa Kecil DIracuni Politik

Surga Masa Kecil DIracuni Politik

460
0

OLEH : FERDI PEGHO, SH

Flobamora-news.com

Hampir seluruh belahan dunia terlebih khusus negara tercinta kita Indonesia bahwa Pulang Kampung atau bahkan di sebut Mudik merupakan rencana terbesar dalam keluarga disaat menjelang hari raya keagamaan seperti Idul Fitri, Natal, Tahun Baru dan lain-lain. Rencana terbesar dalam keluarga bahkan teman seasal yang diperantauan ketika menjelang hari raya maka tidak lain selain rencana berlibur dengan keinginan dan bahkan sebagai cita-cita untuk Pulang Kampung.

Sebagian orang selalu ingin meninggalkan pekerjaan, meninggalkan tempat perantauan, meninggalkan tempat tugas terlebih khusus mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Kota yang ingin selalu melepas rindu akan keluarga dengan pulang kampung. Kerinduan akan pulang kampung memang tidak lain selain karena terlalu lama meninggalkan kampung atau kepingin menikmati suasana kampung yang begitu ramah seolah mendekap erat dengan kehidupan alam sekitar. Selain itu yang baling mengendap dalam parasaan rindu akan pulang kampung adalah karena ingin bertemu dan memeluk orang tua, Opa, Oma, saudara, teman sepermainan masa kecil, bertemu guru SD yang paling galak dan yang paling baik dan masih banyak kenangan lain yang ingin di gapai.

Cerita akan Kampung Halaman membuat aku teringat akan Pusisi Tentang Kampung Halaman yang berjudul “Berjuta Sepi” ditulis oleh seorang Penyair tanah air Agus Suryadi pada bait pertamanya “selamat datang malam, titip berjuta rindu untuk mereka dikampung halaman, aku disini biarkan aku membeku karena duka, sebab hari terus beranjak dan menoreh luka. Puisi ini membayangkan suasana sepi yang menghampiri aku disaat mengingat akan cerita Kampung Halaman.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kampung adalah kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu yang terletak di wilayak kecamatan, yang tidak lazim disebut Desa atau Dusun dimana kita membayangkan suasa kampung yang merupakan suatu tempat yang indah dibandingkan di kota, kampung juga menyajikan suasana kedamaian, keasrian alam yang membuat nyaman untuk menjauhi diri dari kebisingan kota.

Sangat disayangkan keindahan suasana kampung halaman saat ini sudah tidak lagi seperti dulu sebagaimana yang dibayangkan dalam cuplikan singkat diatas, kampung halaman yang ku sebut sebagai “SURGA MASA KECIL” itu ternyata telah di obrak-abrik oleh ideologi politik sebagian orang yang ingin meraup keuntungan dengan menanam ideologi kebisingan yang merusak kenyamanan perasaan penghuni surga itu. Kampung yang merupakan kesatuan administrasi terkecil dan dipandang sebagai tempat ternyaman dan terindah untuk menikmati kedekapan ciptaan Yang Maha Kuasa itu sudah tidak lagi akrab dengan penghuninya, hal ini diakibatkan oleh Pengetahuan akan ilmu politik bagi sebagian orang kampung yang tidak mengerti akan fungsi dan tujuan dari politik itu sendiri, bahkan ilmu politik sedekah pun dapat memicu racun suasana hingga menyebar menutupi jalan perdamaian hingga meregangnya tali persaudaraan dan keakraban dalam kampung.

Racun yang kita kenal merupakan produk bahan kimia yang membuat seseorang atau mahkluk hidup dapat meregang nyawa seketika jika menghirup atau mengkonsumsinya, tidak jauh berbeda dengan politik yang tidak memberikan pengertian yang baik terhadap penghuni Surga Masa Kecil itu. Entah kenapa, entah siapa yang salah, entah sistem apa yang disajikan kaum penguasa dalam perpolitikan bangsa, ataukah politik apa yang dihirup dan dianut oleh penghuni surga kecil itu? kita semua tidak saling mempersalahkan, tapi ini adalah fakta bahwa politik itu membawa kemodernisasian kampung halaman sebagai SURGA MASA KECIL itu ke jalan yang bukan jalannya. Lantas apa yang terjadi? Kemeriahan kehidupan orang kampung sebagaimana tokoh-tokoh Adat yang terlihat dan dirasakan begitu sangat ramah ketika menyambut tamu pejabat dan tokoh-tokoh besar keagamaan, pemerintah, bahkan menyambut keberhasilan anak, cucu mereka yang telah selesai mengenyam pendidikan dengan berbagai budaya yang menarik dan antusias masyarakat yang menyentuh hati sudah terlihat sangan menipis, hal ini tidak lain karena Politik.

Akuilah bahwa kita semuanya berasal dari SURGA MASA KECIL itu, dan ingin selalu kembali ke masa kecil dimana tidak terdapat kebisingan dari suasana politik yang tajam. Akhir cerita kita Berharap agar kepentingan Penguasa dibalik politik itu dapat mengembalikan suasana SURGA MASA KECIL.

Editor by: Robert Enok

Komentar