Oecusse dan Sejarah Masuknya Gereja Katolik di Pulau Timor

  • Bagikan

OECUSSE, Flobamora-news.com – Seorang ahli sejarah berkebangsaan Inggris, Herbert Butterfield pernah berkata, “lebih dari segala-galanya, kekuatan ingatan historislah yang telah mampu mengikatkan orang Israel bersama sebagai suatu bangsa”.

Pernyataan ini memiliki makna bahwa sejarah itu bukanlah suatu peristiwa masa lalu semata. Bukan pula suatu memori untuk sekedar dilihat di saat-saat tertentu. Tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Dia mengikat ketiga patahan waktu yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Ikatan itu semakin kental dan kuat ketika Yahwe yang mereka imani berperan penting menentukan arah kehidupan mereka.
Kepercayaan ini yang membuat orang Israel yakin bahwa mereka itu satu bersama Yahwe sejak awal, sekarang, dan akan tetap satu di masa yang akan datang.

Demikian juga sejarah Gereja Katolik Pulau Timor. Kita tidak hanya sekedar menelusuri ketiga patahan waktu yang ada, atau sekedar menulis kembali setiap peristiwa yang terjadi, tetapi adalah sejarah keselamatan Allah sendiri yang dibawa oleh para nabi modern yaitu para misionaris mulai dari Imam-imam Dominikan, OFM, Salib Suci, Imam-imam Projo Belanda, Yesuit, dan SVD.

Pulau Timor dikenal sebagai salah satu pulau dengan populasi penganut Katolik terbesar di Indonesia. Jejak-jejak kekatolikan di Pulau Timor sudah dimulai pada 1500an.

Sejarah mencatat, ajaran Agama Katolik pertama kali diperkenalkan kepada orang-orang Timor oleh seorang pastor pelaut Portugis bernama Padre Frei Antonio Taveira yang datang bersama VOC Portugis. Mereka pertama kali mendaratkan kakinya di Lifau, Oecusse, Timor Leste pada tahun 1515.

Seperti lazimnya kelompok pedagang Eropa lainnya di Nusantara, mereka datang untuk mencari rempah-rempah, cendana, dan hasil alam tropis lainnya. Kemudian beberapa biarawan Dominikan mulai mendirikan pemukiman di Lifau, Oecusse dan mulai berdakwah di Pulau Timor.

Portugis memperkenalkan agama katholik, sistem abjad latin, percetakan, dan sekolah formal kepada masyarakat Oecusse. Mereka juga menggunakan bahasa purtugis digunakan dalam peribadatan dan birokrasi berdampingan dengan bahasa tetum dan melayu buat urusan sehari-hari.

  • Bagikan