Beranda Internasional Oecusse dan Sejarah Masuknya Gereja Katolik di Pulau Timor

Oecusse dan Sejarah Masuknya Gereja Katolik di Pulau Timor

3004
0

OECUSSE, Flobamora-news.com – Seorang ahli sejarah berkebangsaan Inggris, Herbert Butterfield pernah berkata, “lebih dari segala-galanya, kekuatan ingatan historislah yang telah mampu mengikatkan orang Israel bersama sebagai suatu bangsa”.

Pernyataan ini memiliki makna bahwa sejarah itu bukanlah suatu peristiwa masa lalu semata. Bukan pula suatu memori untuk sekedar dilihat di saat-saat tertentu. Tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Dia mengikat ketiga patahan waktu yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Ikatan itu semakin kental dan kuat ketika Yahwe yang mereka imani berperan penting menentukan arah kehidupan mereka.
Kepercayaan ini yang membuat orang Israel yakin bahwa mereka itu satu bersama Yahwe sejak awal, sekarang, dan akan tetap satu di masa yang akan datang.

Demikian juga sejarah Gereja Katolik Pulau Timor. Kita tidak hanya sekedar menelusuri ketiga patahan waktu yang ada, atau sekedar menulis kembali setiap peristiwa yang terjadi, tetapi adalah sejarah keselamatan Allah sendiri yang dibawa oleh para nabi modern yaitu para misionaris mulai dari Imam-imam Dominikan, OFM, Salib Suci, Imam-imam Projo Belanda, Yesuit, dan SVD.

Pulau Timor dikenal sebagai salah satu pulau dengan populasi penganut Katolik terbesar di Indonesia. Jejak-jejak kekatolikan di Pulau Timor sudah dimulai pada 1500an.

Sejarah mencatat, ajaran Agama Katolik pertama kali diperkenalkan kepada orang-orang Timor oleh seorang pastor pelaut Portugis bernama Padre Frei Antonio Taveira yang datang bersama VOC Portugis. Mereka pertama kali mendaratkan kakinya di Lifau, Oecusse, Timor Leste pada tahun 1515.

Seperti lazimnya kelompok pedagang Eropa lainnya di Nusantara, mereka datang untuk mencari rempah-rempah, cendana, dan hasil alam tropis lainnya. Kemudian beberapa biarawan Dominikan mulai mendirikan pemukiman di Lifau, Oecusse dan mulai berdakwah di Pulau Timor.

Portugis memperkenalkan agama katholik, sistem abjad latin, percetakan, dan sekolah formal kepada masyarakat Oecusse. Mereka juga menggunakan bahasa purtugis digunakan dalam peribadatan dan birokrasi berdampingan dengan bahasa tetum dan melayu buat urusan sehari-hari.

Agama Katholik pun bertumbuh subur di Pulau Timor. Hal itu ditandai dengan didirikannya stasi pertama Gereja Katholik di Mena, Kabupaten TTU pada. Pendirian stasi ini pun tidak serta-merta terjadi begitu saja.

Setelah lama menjadi daerah misi yang sering hanya dikunjungi dari Solor, akhirnya diputuskan bahwa perkembangan iman umat di Pulau Timor perlu diperhatikan secara serius. Keseriusan ini ditunjukan dengan dibukanya stasi pertama Gereja Katholik untuk misi Portugis di Timor.

Mena dijadikan tempat stasi pertama di Pulau Timor karena Mena waktu itu adalah sebuah pelabuhan penting untuk perdagangan kayu cendana di pantai utara Timor. Bahkan disebut juga Mena adalah sebuah kerajaan besar di pulau Timor.

Mengutip tulisan Manuel Godinho de Eredia, Hans Hagerdal dalam bukunya Lords of the Land, Lords of the Sea (2012:30), mengatakan bahwa Mena adalah sebuah kerajaan besar di pulau Timor, dan merupakan salah satu pusat perdagangan kayu cendana.

Antara tahun 1589-1590 Pastor Frei Melkior de Antas OP datang ke Mena dan membentuk satu kelompok umat dan mendirikan gereja di situ. Disebut bahwa anak sulung Raja Mena dibawa oleh Frei Melkior de Antas OP ke Malaka untuk dididik dalam sekolah Katolik. Setelah tamat, anak sulung raja Mena langsung dipermandikan oleh Uskup Joao Ribeiro Gaio dengan nama Laurensius dan diantar kembali ke tanah airnya.

Tahun 1597 giliran Raja Mena dipermandikan. Tanggal 18 April 1613 hampir semua Misionaris dari Solor mengunjungi misi Timor yang berpusat di Mena. Ketika itu Raja Kupang, Ampono menyatakan keinginannya untuk dipermandikan.

Dikatakan bahwa Nisnoni Sonbai (musuh raja Ampono) mencari hubungan dan kerja sama dengan orang Belanda di Solor yang beragama Protestan Calvanistis untuk melawan raja-raja yang pro Portugis. Tahun 1624/25, utusan-utusan dari Sawu-Pequeno (Roti) pergi ke Larantuka memohon seorang misionaris untuk pulau Roti.

Antara tahun 1625 sampai tahun 1663, VOC semakin intensif melakukan perlawanan ke daerah kedudukan Portugis di pulau Solor. Dan ketika Solor jatuh ke tangan Belanda, pusat misi Portugis berpindah ke Larantuka.

Tujuh Misionaris Dominikan yang ada di Solor bersama 30 orang Portugis dan Tuppasi, diikuti 1000 orang asli yang beragama Katolik pindah dari Solor ke pusat baru Larantuka.

Tahun 1629 Frei Cristavao Rangel OP datang dari Larantuka ke “Silabao” (Silawan) dan Januli (Atapupu), mempermandikan Raja dengan banyak rakyatnya dan mendirikan sebuah gereja di situ. Karena orang-orang Makasar yang ada di situ coba meracuni dia, maka ia terpaksa pulang ke Larantuka dan dapat diganti oleh Frei Bento Serao OP.

Bukti Mena menjai pusat misi Portugis, yaitu adanya fondasi semen yang masih ada di ujung tanjung Bastian

Tahun 1630, Frei Luis da Paizao OP datang ke Kupang untuk bertemu Raja Ampono, tetapi dalam waktu singkat dia dibunuh oleh orang Nisnoni.

Tanggal 12 Maret 1630 datanglah dari Malaka ke Lohajong seorang Misionaris Dominikan bernama ANTONIO DE SANTO JASINTO OP. Ia kemudian menjadi RASUL PULAU TIMOR.

Tahun 1639 Padre Antonio de Santo Jasinto untuk pertama kalinya mengunjungi Timor setelah tinggal beberapa waktu di Lohajong.

Ia pergi ke Mena untuk bertemu dengan Ratu janda Mena, tetapi karena Ratu tidak menerima dia dengan baik maka ia kemudian pulang ke Lohajong sambil menanti saat yang baik dan tepat untuk kembali ke Mena.

Pantai utara pulau Timor sering mendapat gangguan dari kerajaan-kerajaan dari pulau-pulau sekitar, seperti Raja Makasar yang ingin juga menguasai Pulau Timor. Maka pada tahun 1641 Raja Tello Sumbaco, dari Makasar mendarat di Mena, di pantai utara Pulau Timor.

Ratu Mena bersama rakyatnya kewalahan menghadapi kehadiran pasukan kerajaan Makasar itu. Karena jauh sebelumnya mereka telah mengadakan hubungan yang baik dengan orang Portugis maka Ratu akhirnya meminta bantuan kepada orang Portugis di Larantuka.

Dari sana datang Comisario-General Antonio de Santo Jasinto bersama 2 kapal dan 70 tentara. Dengan bantuan ini maka Ratu Mena dengan penuh percaya diri mengerahkan rakyatnya untuk melawan kehadiran raja Tello Sumbaco dari Makasar.

Setelah tiga bulan berperang akhirnya raja Tello Sumbaco bersama sisa tentaranya pulang dengan kekalahan. Saat baik dan tepat yang ditunggu Padre Frei Antonio de Santo Jasinto pun tiba.

Ratu Mena sekarang menjadi lebih kooperatif dan terbuka menerima kehadiran misi Katolik yang kedua kalinya di wilayah kerajaannya. Hasilnya bahwa tanggal 24 Juni 1641 Ratu Mena dengan anak sulungnya Johanes dan banyak rakyat lain lagi dipermandikan oleh Frei Antonio de Santo Jasinto.

Tanggal 1 Juli 1641 Padre Frei Antonio de Santo Jasinto diminta oleh Ratu janda Ambenu untuk datang ke Oekusi, dan di sana Padre Frei Antonio mempermandikannya, anak laki-laki “Petrus” dan 4 anak perempuannya di Lifao.

Kehadiran Padre Frei Antonio rupanya tersebar juga ke kerajaan-kerajaan sekitar sehingga ketika dia hendak naik kapal untuk pulang ke Larantuka guna melaporkan diri, datanglah satu rombongan dengan 11 orang dari raja Amanuban.

Mereka memohon kedatangan Padre Frei Antonio ke istana raja Amanuban, supaya mengajarkan agama Katolik kepada orang-orang Amanuban.

Karena Padre Frei Antonio tidak bisa maka dikirimlah utusan tentara Portugis Joao Sanchez dan Fronseca dan orang Ambenu yang sudah dipermandikan ke sana dengan perjanjian, kemudian mengirimkan seorang misionaris.

Karena kebutuhan akan misionaris di Timor semakin lama semakin banyak maka bulan Agustus tahun 1641 Padre Frei Antonio de Santo Jasinto mengirimkan dari Larantuka ke Mena Padre Frei Bento Serrao OP dan Frei Manuel da Resuresao OP yang kemudian ditugaskan untuk suatu gereja yang satu jam dari pantai dan delapan jam dari pedalaman.

Sementara untuk wilayah Ambenu dikirim Padre Frei Pedro de Santo Jose, dan Padre Frei Alvaro de Tavora OP. Keduanya bertempat tinggal di Lifao, sedangkan untuk wilayah Amanuban dikirim Padre Frei Jasinto de Santo Dominggos OP dan Frei Crisostomo de Santiago OP.

Pengaruh Belanda saat itu sudah masuk ke wilayah Timor dengan pusatnya di Kupang, walau belum intensif menggarap Timor sebagai daerah jajahannya. Ada raja yang pro Portugis dan ada pula raja yang pro Belanda atau tidak senang dengan kehadiran Portugis.

Raja-raja yang pro Belanda sering mengganggu orang-orang Katolik. Itulah yang terjadi dengan Raja Sombian atau Sonbai. Ia sering mengganggu orang-orang Katolik yang ada di kerajaan sekitar. Maka pada Desember 1641 Padre Frei Antonio de Santo Jasinto mengorganisir suatu ekspedisi melawan Raja Sombian (Sonbai).

Di bawah pimpinan Kaptain Mayor Fransisco Fernandes, Raja-raja Sonbai kemudian dikalahkan, dan minta untuk dipermandikan di Tanjung Sombiao (dekat Oepoli). Dari Timor Padre Frei Antonio de Santo Jasinto pulang ke Larantuka dan selanjutnya jalan terus ke Goa, guna melaporkan keadaan di Pulau Solor dan Timor.

Laporannya menyebabkan kedatangan 20 misionaris Dominikan baru untuk Timor, yakni dua Vikaris Dominikan, masing-masing untuk Flores dan Timor dan satu Visitator untuk Flores dan Timor. Dan Vikaris untuk Timor adalah Frei Antonio sendiri.

Karena raja-raja di bagian utara pulau Timor sering mendapat gangguan dari Maromak Oan, maka pada bulan Mei 1642 Visitator Frei Lucas da Crus OP, mengorganisir ekspedisi kedua dengan tujuan utama melawan Maromak OAN.

Pada tanggal 26 Mei 1642, Visitator datang dengan sejumlah tentara Portugis ke Mena dimana ia mengundang raja-raja Mena, Ambenu dan Sonbai untuk ikut ambil bagian.

Ketika di Mena, semua mereka menyaksikan upacara permandian keluarga raja Batimao (Pah Timao Amfoan) pada tanggal 20 Agustus 1642. Pada bulan September 1642 Perang melawan Maromak Oan dimulai. Kerajaan Maromak Oan diserbu, istananya dibakar, kekuasaannya dihapus, lalu Liurainya diangkat menjadi “kesel”.

Demikian untuk beberapa waktu Mena menjadi pusat kegiatan misi Portugis di Timor sebelum akhirnya berpindah ke Lifao, yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan Portugis di akhir abad ke 17.

Bukti Mena menjai pusat misi Portugis, yaitu adanya fondasi semen yang masih ada di ujung tanjung Bastian dan sumur di pinggir laut Sumnali. Kata Sumnali sendiri menurut penuturan orang setempat berasal dari kata Seminari. Kata ini mengalami perubahan bunyi akibat dialek bahasa Dawan setempat.

Dikatakan bahwa di zaman Portugis tempat itu menjadi pusat pendidikan Seminari sehingga selanjutnya disebut Seminari atau orang setempat menyebutnya Sumnali. (Richi Anyan)

Komentar